Kamis, 07 November 2013

Menjaga Hati dan Cinta Seimbang

  No comments    
Tulisan ini sudah pernah saya tulis sebelumnya pada tanggal 23 Juli 2012
Hari Ketiga Ramadhan
Hari ini aku harus balik lagi ke Bogor, karena ikut Semester Pendek. Padahal masih pengen dirumah sieh, soalnya masih kangen euy, kan jarang pulang kerumah, bisa 3 bulan baru pulang, kalau kata mama “Suka kaya Bang Toyib ga pulang-pulang!”.. udahlah dirumah aja kan liburan, kata umi.. waduh apa kabar nanti SP aku??..ini kali pertama aku buka bareng di kostan, enak banget dimasakkin sama ibu yang jaga kost jadi ga usah repot beli di luar, kalau sahur juga udah dimasakin sama Ibunya, tinggal nanti bayar perorang sesuai yang dimakan..Pas buka puasa diceritain sama si Ibunya tentang cerita dongeng Putri Duyung karangan H.C Anderson.


Sedih banget beda dengan yang dikartun. Intinya tentang pengorbanan Cinta yang besar dari seorang makhluk setengah manusia setengah ikan yang mencintai seorang pangeran yang Ia selamatkan dilaut. Betapa besar cintanya hingga ia mengorbankan dirinya sakit, mengorbankan suaranya yang indah kepada penyihir laut yang jahat demi mendapatkan kaki manusia. Namun yang ia dapatkan malah sakit hati yang teramat sangat karena cintanya bertepuk sebelah tangan, karena pangeran lebih memilih putri lain yang telah menolongnya saat ia terdampar di tepi pantai dekat kerajaan putri tersebut. Putri duyung tersebut demi bisa terus dekat dengan pangeran ia rela menjadi pembantu dikerajaan sang Putri yang telah menyelamatkan pangeran. Pada suatu saat pangeran melamar sang putri untuk dijadikannya istri, karena sudah tidak kuat putri duyung ingin membunuh sang Pangeran, karena ia befikir jika ia tidak mendapatkan pangeran maka putri tersebut juga tidak boleh mendapatkannya. Teringat akan perjanjian dengan penyihir laut yang telah mengambil suaranya. Kata penyihir jahat tersebut “Jika suara mu ingin kembali dan kau ingin menjadi manusia yang seutuhnya, maka sihir tersebut bisa musnah jika pangeran menyatakan cinta kepadamu, dan kamu menikah dengan pangeran.” Namun hal itu sia-sia, sekeras apapun usaha sang putri duyung untuk memberitahukan kepada pangeran bahwa yang telah menyelamatkan dirinya dari kematian adalah putri duyung, tetapi pangeran sama sekali tidak mengerti yang ia coba katakan, dan pangeran hanya menganggapnya pembohong. Putri duyung tersebut hanya bisa menangis, dia melihat pangeran tersebut memberikan cincin kepada putri dan mengikrarkan janji pernikahan. Putri duyung tersebut kembali ketepi laut dan berubah menjadi buih. Jadi pengen beli bukunya deh di Gramedia penasaran banget, soalnya kata Ibu kost ceritanya bener-bener sedih. Memang sedih sih, diceritain aja udah pengen nangis. Hiks hiks hiksssss….padahal kalau film kartun produksi dari Diesney, itu so sweet banget..
Moral yang bisa aku ambil dari cerita Putri duyung ini, bahwa janganlah terlalu mencintai orang lain yang memang belum benar-benar kita miliki, karena belum tentu orang tersebut mencintai kita, walaupun kita telah berkorban banyak karena orang yang kita cintai tidak tahu apa yang telah kita lakukan demi dia. Mencintailah dengan sekedarnya janganlah kurang dan janganlah berlebih. Karena Cinta yang benar-benar harus kita cintai adalah cinta untuk Pencipta Kita, dialah Maha Kasih dan Maha Sayang. Mencintai adalah anugerah yang diberikan oleh Allah kepada makhluknya yaitu manusia, namun kita harus bisa mencoba memberikan keseimbangan antara cinta kita kepada makhluk Allah dan Allah SWT. Allah memberikan karunia kepada manusia agar bisa berkasih sayang. Tetapi kasih sayang ini harus bisa coba kita jaga untuk yang telah dihalalkan. Kalau dizaman sekarang sudah banyak remaja-remaja yang berkorban memberikan apa saja agar kekasihnya tidak direbut orang sampai-sampai dia rela memberikan yang harusnya dia jaga hanya untuk suaminya kepada orang lain yang belum tentu menjadi suaminya, katanya atas dasar cinta.. naudzubillahi.. jika sudah terjadi hal demikian, maka dosalah diri yang telah melakukannya, mencoreng nama baik keluarga, impian yang dia idam-idamkan pun seketika akan musnah.
Karena terkadang seperti kata pepatah, “Cinta buta tak memandang rupa. Walaupun rupa fisik biasa saja, jatuh cinta tetap bisa menimpa.”
Cinta buta akan menjadikan pelakunya tersiksa. Baik saat berhasil maupun gagal, maka kalau mau jatuh cinta jangan membabi buta, jatuh cintalah dengan melek.
Dengan cara pertama : mendahulukan kepentingan Allah, saat rasa cinta membentur kepentingan Allah, kepentingan Allah lah yang harus didahulukan.
Kedua : jika mencintai harus sewajarnya dan tidak berlebihan. Karena boleh jadi hari ini kita mencintainya setengah hidaup dan membencinya setengah mati
Ketiga : berani menerima realita, saat objek yang kita cintai sudah ada yang punya, janganlah memaksakan diri.
Dikutip dari buku nieh, “Aku Pingin Nikah (mending nikah muda daripada menumpuk dosa)”.
“Semoga Allah selalu menjagaku, dan selalu bersyukur karena Allah selalu menjagaku sampai sekarang”
Alhamdulillah..amiiinn,.. :)

Siapa Bilang Ga Boleh Jatuh Cinta

  No comments    

Menurutku, jatuh cinta itu boleh, Allah telah memberikan kita rasa untuk mencintai sesuatu, seperti kita harus Mencintai Allah. Dalam buku karangan Salim A.Fillah yang telah saya baca yang berjudul  Nikmatnya Pacaran Setelah Menikah.
Cinta ALLAH : Pada Yang Maha Abadi, Sebabnya pun Abadi
“ Bila hambaKu bertanya kepadamu, tentang Aku, maka Aku adalah dekat (Al-Baqarah 186)
Cinta pertama kita haruslah kepada Allah sebagai seorang mu’min
Cintailah Allah, dengan keimanannya yang akan kau bawa menghadap-Nya.
Fragmen menyejarah seorang Arab gunung yang bertanya tentang kiamat kembali hadir dalam memori kita. “Bilakah datangnya kiamat Ya Rasulullah?” tanyanya “Apa yang sudah kau siapkan untuk menyambutnya?”, Sang Rasul  menjawab “Cinta kepada Allah dan RasulNya..”.
“Engkau akan bersama dengan yang kau Cintai..”
Cinta Rasulullah, kepada umatnya
Rasulullah lelaki penuh cinta yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian orag-orang tercinta. Ia yang menyimpan hak doa dan tak tertolak para Nabi untuk umatnya di hari pengadilan, karena cinta. Hanya enampuluh tiga tahun usianya, tapi sampai 14 abad-para penyusun kisah masih terus menulis, para sastrawan masih terus bersyair, dan para sejarahwan masih senantiasa takjub, bahwa mereka menemukan cinta dalam setiap sisi hidup manusia mulia ini.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Ar Rahman akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”(Maryam 96)
“Allah ‘Azza Wa Jalla berfirma, “Mereka yang saling mencintai karena keagunganKu mempunyai mimbar-mimbar dari Cahaya yang diinginkan oleh para Nabi dan Para Syuhada.” (HR At Tirmidzi dari Mu’adz ibn jabal)
Sungguh ada kata-kata yang sangat aku suka dalam buku ini, yaitu
Jika engkau mencintai hanya karena Allah, bersiaplah dicemburui para Nabi dan Syuhada. Jika engkau mencintai hanya karena Allah dan dalam naungan ridhaNya, maka temuilah cinta sebagai janji dari Ar Rahman untuk orang-orang beriman.
Yuk sama-sama Jatuh Cinta kepada Allah dan Mencintai manusia yang di Muliakan Allah juga mencintai orang-orang disekeliling kita hanya kepada Allah.
To be continued
Siapa bilang ga boleh jatuh cinta berikutnya..

Jalan Terbaik DariNya

  No comments    
Sewaktu saya kelas X SMA di SMA Negeri 72 Jakarta saya pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional di bidang Geosains yang membahas tentang Bumi dan seluruh jagat raya. Awalnya saya memilih pelajaran Biologi, saya mendaftar pada Wali Kelas saya yaitu Pak Agus, pada saat istirahat saya di panggil oleh guru Biologi saya ke ruang guru selama diperjalanan dari kelas menuju ruang guru perasan sungguh sangat senang karena saya bisa dan sangat ingin meneruskan  dan mengikuti  kembali Olimpiade seperti pada saat saya masih SMP dulu yang juga pernah mengikuti ajang seperti ini. Sesampainya di ruang guru Bu Anita menyuruh saya duduk di sampingnya, tiba-tiba nama saya di coret oleh Bu Anita dan di gantikan oleh nama teman sekelas saya Ningrum, saya sangat sedih dan kecewa saya bertanya kepada diri saya sendiri, “Kenapa nama saya harus di coret dan digantikan apa karena guru Biologi saya mengangggap saya tidak mampu?”. Bu Anita hanya berkata “Kamu saya ganti dengan Ningrum, tidak apa-apa kan?”.  Sempat saya meminta agar saya tetap dapat mengikuti Olimpiade dan meminta alasan kepada Bu Anita kenapa saya digantikan dengan Ningrum, tetapi Bu Anita hanya berkata “Kan masih ada pelajaran yang lain.”
Akhirnya dengan berat hati keputusan dari Bu Anita saya terima keluar dari ruang guru saya menuju kelas dengan mata yang mulai berkaca-kaca, di kelas saya menangis sambil berdoa agar Allah dapat memberikan sesuatu yang terbaik untuk saya, karena memang saya ingin membanggakan kedua Orang tua saya. Setelah istirahat adalah pelajaran Geografi, Bu Nur Imani kemudian masuk ke dalam kelas, seperti biasa Bu Nur Imani sebelum masuk kedalam materi pelajaran yang ingin Dia ajarkan Bu Nur selalu bercerita itulah yang kadang-kadang membuat teman-teman kelas saya suka mengantuk sewaktu masuk ke dalm materi, tetapi saya tetap antusias mendengarkan ceritanya dan materi yang Dia ajarkan karena saya juga suka dengan pelajaran Geografi apalagi yang membahas tentang Jagat Raya dan Alam semesta. Setelah jam mengajar telah usai Bu Nur Imani kemudian mengeluarkan secarik kertas dan dia bertanya kepada kami siapa yang inginmengikuti OSN Kebumian atau Geosains tetapi tidak ada yang mengajukan diri termasuk saya akhirnya teman saya yang bernama Almanitasari yang kemudian dipilih oleh Bu Nur. Istirahat kedua setelah sholat Dzuhur saya kembali ke ruang guru untuk bertemu Pak Agus, saya ingin meminta tolong agar saya bisa mengikuti Olimpiade Biologi walaupun hanya sebagai cadangan untuk menggantikkan orang lain, mungkin memang saya terlalu terobsesi atau bisa di bilang terlalu memaksakan kehendak tetapi saya hanya ingin mencoba dan berusaha.
Di ruang guru saya mencoba berbicara dengan Pak Agus tetapi Beliau menjawab keputusan di pegang oleh Bu Anita, saya akhirnya mulai menerima dengan lapang dada mungkin apa yang saya inginkan belum tentu menjadi kenyataan, ketika saya beranjak meninggalkan meja tempat Pak Agus, Bu Nur Imani memanggil saya. “El…sini sebentar, Ibu ada perlu sama kamu.” Saya pun pergi ke meja Bu Nur Imani. “Mau ikut Olimpiade Kebumian tidak El?” saya sangat kaget karena di tawarkan untuk mengikuti Olimpiade. Ragu-ragu sebenarnya karena saya baru pertama kali mendengar ada Olimpiade Kebumian, kalau Olimpiade Fisika dan Matematika mungkin sering sekali mendengarnya dan banyak kontingen atau perwakilan dari Indonesia yang sering mendapatkan emas dan penghargaan lainnya.
Saya menerima tawaran dari Bu Nur Imani walaupun hanya sebagai cadangan dan masih harus ikut seleksi dari sekolah, saya sangat bersyukur setidaknya bisa mengikuti Olimpiade nantinya. Pada hari Senin tepatnya pada saat Ujian Blok pertama guru Fisika Pak Hasan masuk ke ruang tempat ujian dan membacakan nama murid – murid yang akan mengikuti olimpiade tingkat sekolah se-Jakarta Utara, semua nama perbidang pelajaran masing-masing sudah selesai dipanggil giliran nama murid – murid yang mengikuti olimpiade kebumian.”Alimanita Lestari, kelas X 4..” teriak Pak Hasan yang berdiri di depan pintu kelas, teman – teman serentak berteriak “Tidak ada yang bernama Alimanita Lestari yang ada Almanitasari dan Elva Lestari Pak!” Salah satu teman saya Erwin berteriak dari kursi “Kalau Almanita di kelas sebelah Pak ruangannya kalau Elva ruangannya disini.” Sebelum meninggalkan kelas Pak Hasan berkata kalau yang ikut olimpiade untuk berkumpul di Ruang Bimbingan Konseling setelah pulang sekolah, dan Beliau juga menyuruh saya untuk ikut bergabung.
Seminggu setelah Ujian Blok, pada hari Sabtu tes untuk mengikuti Olimpiade di laksanakan tempatnya berada di SMA Negeri 13 Jakarta. Jantung berdegup kencang dan merasa gugup melihat saingan dari sekolah lain. Saya melihat di madding kelas yang akan saya tempati sewaktu tes dan nomor pesertanya, setelah saya melihat di madding saya menuju ruangan yang saya tempati di saat tes berlangsung. Jam 8 pagi soal – soal pun dibagikan dalam keadaan tertutup, pengawas yang mengawasi ruangan mengajak kami untuk berdoa sebelum mengerjakan soal – soal yang di berikan. Saya berdoa semoga dimudahkan untuk menjawab soal dan mengerjakan sebaik mungkin.
Tiga hari kemudian hasil pun telah keluar dan di tempel di mading sekolah, sungguh sangat bersyukur ternyata saya dan teman saya Almanita lolos ke tahap selanjutnya, sedangkan teman saya yang bernama Ningrum tidak lolos. Saya berfikir mungkin ini jalan yang Allah berikan kepada saya bukan dari apa yang saya inginkan melainkan dengan jalan lain yang Allah berikan terhadap saya. Setelah dua minggu saya mengikuti pembinaan olimpiade tersebut hari Sabtu diadakan tes untuk ke tingkat DKI dan pada hari Minggu saya mengikuti seleksi Paskibraka di Walikota Jakarta Utara, berat memang menjalani rangkaian acara untuk tahap penyeleksian anggota, tetapi tetap saya jalani dengan senang hati. Pada saat pengumumman diumumkan pada sore hari itu juga, ternyata saya belum lolos menjadi Anggota Paskibraka sangat kecewa tetapi saya terima dengan lapang dada.
Seminggu setelah tes olimpiade ke tingkat DKI dan seleksi Paskibra saya diberitahukan oleh teman saya Almanita bahwa pengumumman hasil tes sudah ada di madding sekolah dan dia berkata kalau saya lolos ke tingkat DKI tetapi teman saya yang bernama Almanita dia tidak lolos, pada saat tes olimpiade berikutnya, untuk tingkat provinsi saya mengalami kegagalan. Namun ada pembelajaran untuk diri saya bahwa “Tidak semua yang saya inginkan dapat terwujud tetapi apa yang Tuhan berikan merupakan hal yang selalu terbaik untuk diri saya.” “Berfikir positif, tetap semangat, berusaha dan tidak mudah putus asa yang akan membantu seseorang meraih apa yang diinginkan walaupun tidak semua terealisasikan kepada diri sendiri.”

Orang Tua Ku Inspirasi Ku

  No comments    
Saya bangga terhadap kedua orang tua saya baik Ibu dan Ayah saya. Dari kecil ayah selalu bekerja keras dan sabar, sewaktu ayah saya masih kecil, pada saat usianya sekitar 10 tahun, ayah menjadi yatim karena kakek saya meninggal 3 hari setelah turun dari kapal, kakek saya merupakan Pelaut dan bekerja di sebuah kapal Belanda Kapal Orange milik Ratu Yuhelmina. Saat masih ada kakek, kehidupan ayah beserta ke tiga adiknya sangatlah berkecukupan tetapi semenjak kakek meninggal kehidupan ayah sangat berubah drastis. Ayah harus bersekolah sambil bekerja mencari uang karena kebutuhan ayah dan ketiga adiknya belum tentu cukup jika hanya mengandalkan nenek yang menjadi tukang cuci juga mengurus ketiga adiknya yang masih kecil. Ayah dan paman saya (adik ayah yang kedua) setiap pulang sekolah bekerja menjual telur asin walaupun begitu tidak pernah ada rasa mengeluh, ayah sangat beruntung ayah tidak perlu mengeluarkan sedikit pun uang untuk dia bersekolah karena mendapatkan kebebasan biaya. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ayah ingin sekali melanjutkan ke Sanawiyah (sederajat dengan SMP) tetapi terbentur dengan biaya, tetapi ayah tetap bekerja keras untuk mencari biaya agar ayah bisa bersekolah, suatu hari saudara kakek yang sangat berkecukupan datang kerumah ayah dan melihat kondisi ayah sekeluarga, akhirnya Beliau memutuskan untuk membawa ayah untuk tinggal dirumahnya dan menyekolahkan ayah, setelah ayah tinggal di rumah Kakek (panggilan saya terhadap saudara dari kakek), kakek sangatlah bangga atas ketekunan ayah karena selain sekolah ayah masih membantu pekerjaan rumah seperti menyapu,mengepel, dan mencuci piring. Setelah ayah beranjak dewasa ayah mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang ayah dapat selalu dia tabung untuk biaya pernikahan dengan ibu karena ayah tidak ingin merepotkan keluarga dari kakek.
Ibu saya dari kecil hidup mandiri, karena dari kecil kakek dan nenek telah berpisah, ibu dan adik laki-laki satu-satunya tinggal di rumah pamannya ibu, setiap pulang sekolah ibu sering berjualan es lilin di stasiun kereta api hanya untuk mencari biaya untuk sekolah, ibu juga sering berjualan jambu air yang sering dititipkan oleh pemilik kebun jambu air, uang yang ibu terima ibu kumpulkan untuk biaya ke Jakarta. Sewaktu ibu lulus dari SD ibu memutuskan ke Jakarta, setelah di Jakarta Ibu menemui saudaranya untuk bisa tinggal di sana sampai ia mendapat pekerjaan, Ibu saya tidak pernah diam,  ide-ide yang ia dapat untuk mencari uang selalu ia coba, sampai ibu menikah dengan ayah dan melahirkan ku, bidan yang membantu persalinan ibu memberikan modal untuk ibu dan ayah untuk membuka usaha. Dari menjual tas hingga pakaian Ibu dan ayah pernah mencobanya.
Itulah sebabnya mereka berdua adalah inspirasi dalam hidup saya. Kerja keras, kesabaran, ketekunan, mandiri dan mencoba hal-hal baru juga yang lebih utama selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam keadaan apapun Mereka berdualah juga nenek saya yang mengajarkan semuanya kepada saya.

KEDEWASAAN MANUSIA

  No comments    
Waktu dalam kehidupan bagi seorang manusia, adalah sebuah misteri. Waktu adalah kumpulan titik-titik abstrak yang memanjang dan menjadi dimensi yang tidak lepas dari perilaku manusia. Waktu bukan ruang hampa yang terbebas dari tindakan manusia. Setiap detik dengan detik lainnya memiliki pemaknaan yang berbeda. Nabi telah berwasiat. “Hari ini harus lebih baik dari kemarin.” Wasiat yang mengingatkan kepada betapa penting memaknai setiap detik yang dilalui. Tanpa pemaknaan yang berarti, hidup menjadi mubazir dan kemubaziran adalah pangkal kehancuran.
Mengutip Blog ( http://muhammadirfani.wordpress.com .2009 )
Beliau juga bersabda : Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru, “Wahai putra-putri Adam, Aku adalah Waktu, aku makhluk yang baru yang akan menjadi saksi atas perbuatanmu. Maka gunakanlah aku, karena aku tidak aan kembali sampai hari kiamat.”
Seorang Ulama berkata : “Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau kota dan desa, membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu, selaian Tuhan, tidak akan mampu melepaskan diri darinya”
Maka, tidakkah kita ingin membuat makna berbeda bagi setiap jengkal usia yang ditambahkan dalam hidup kita ?
Manusia adalah makhluk yang melewati beragam proses menuju kesempurnaan. Manusia merupakan lokus bagi gabungan dari “unsur Suci” (Ruh Ilahi) yang menyebabkan para malaikat sujud kepada Adam dan “unsur hina’ (debu tanah) yang menjadikan Iblis bersikap rasis enggan sujudnya. Unsur Suci adalah “kodrat langit” yang memberi potensi ketakwaan sehingga manusia dapat lebih mulia daripada malaikat, dan unsur debu tanah adalah “kodrat bumi” yang memberi potensi berbuat fujur (dosa) sehingga manusia bisa meluncur ke derajat yang lebih hina.
Sejak lahir kodrat bumi memaksa kita untuk menuju kedewasan secara fisik-biologis, dan kodrat langit memberi pilihan kepada kita untuk menuju kedewasaan secara psikis-spitirtual. Kedewasaan bukan sekedar kesiapan untuk menhasilkan keturunan (reproduksi), tetapi kedewasaan adalah kemampuan untuk melahirkan keputusan memilih jalan yang terbaik bagi kelangsungan hidupnya.
Mencapai usia dewasa merupakan anugerah Allah SWT yang paling besar kepada seseorang, karena di usia ini ia akan diberikan karunia hikmah dan kebijaksanaan sehingga terbentang dihadapannya jalan kebenaran dan diteguhkan hatinya dalam ketaatan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman: “Dan setelah menjadi dewasa dan cukup umurnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah dan ilmu pengetahuan. Demikianlah Kami memberi balasan bagi orang-orang yang melakukan kebajikan. “ (QS. 28;14)
” … sehingga apabila dia telah dewasa dan mencapai umur empatpuluh tahun, berkatalah ia: ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku jalan untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kedua ibu-bapakku, dan doronglah aku untuk berbuat amal saleh yang Engkau ridhai …” (QS. 46;15)
As-Syaikh al-Arif Abdul Wahhab bin Ahmad as-Sya’rani dalam kitabnya al-Bahrul-Maurud menyebutkan: “Telah diambil janji-janji dari kita, bahwa apabila kita telah mencapai umur empatpuluh tahun, hendaklah bersiap-siap dengan melipat kasur-kasur dan selalu ingat bahwa kita sekarang sedang dalam perjalanan menuju akhirat pada setiap nafas yang kita tarik sehingga tidak akan lagi merasa tenang hidup di dunia. Di samping itu hendaknya kita menghitung setiap detik dari umur kita sesudah melebihi empat puluh tahun, sebanding dengan seratus tahun sebelumnya.”
Imam Syafi’i (rahimahullah), setelah mecapai umur empat puluh tahun, berjalan dengan sebatang tongkat kayu. Ketika ditanya sebabnya, beliau berkata:“Supaya aku senantiasa ingat bahwa aku adalah seorang musafir yang sedang berjalan menuju akhirat.”
Berkata Wahab bin Munabbih: “Aku baca dalam beberapa kitab, bahwasanya ada suatu suara menyeru dari langit ke-empat pada setiap pagi: ‘ Wahai orang-orang yang telah berusia empatpuluh tahun! kamu adalah tanaman yang telah dekat dengan masa penuaiannya. Wahai orang-orang yang telah berusia limapuluh tahun! Sudahkah kamu ingat tentang apa yang telah kamu perbuat dan apa yang belum? Wahai orang-orang yang telah berusia enampuluh tahun! Tidak ada lagi dalih bagimu. Oh, alangkah baiknya seandainya semua mahluk tidak diciptakan! Atau jika mereka telah diciptakan, seharusnya mereka mengetahui, mengapa mereka diciptakan. Awas, saatmu telah tiba! Waspadalah! “
Oleh karena itu, sudah sepantasnya tahapan kedewasaan ini dimaknai secara utuh oleh kita, bukan sekedar dari jumlah usianya, namun juga kematangan yang layak dimiliki, sebagai bentuk syukur atas karunia yang diberikan-Nya itu. Berbahagialah bagi mereka yang diberi kesempatan oleh Allah mencapai usia kedewasaan ini.
“Ya Allah, bimbinglah aku dengan hidayah-Mu, agar mampu memanfaatkan sisa perjalanan hidupku menjadi semakin dekat mencapai keridhaan-Mu”

Ku bersimpuh kepadaMu

  No comments    
Tegar, berjalan sendiri
Melalui terjalnya jalan ini
Berdiri Di persimpang Jalan kini
Terpaku, Diam, tak dapat berlari

Tak Ada Tempat Kecuali PadaMu
Hati dan Fikiran yang Mulai Beku
Ku Meminta dengan Tangis menemaniku
Pemilik Hati, Mohon Kuatkan Ku..

Bersimpuh, Menengadah, dan Meminta
Hanya PadaMu hamba ini bercerita
Dengarkanlah bait-bait resah di dada
Biarlah Kau yang tahu segalanya.

Menutupi rasa dengan tersenyum manis
Namun Engkau tahu kerap hati menangis
Rabb..terkadang iman ini tebal dan kadang tipis
Kuatkan Selalu  Rabb..

Rabu, 06 November 2013

Selalu Banyak Cerita di Forum Indonesia Muda

  No comments    
Bagian 1
Ya..untuk kesekian kalinya aku menjadi Panitia diacara kegiatan kepemudaan Forum Indonesia Muda, tidak terasa sudah FIM 15 dan tahun ini adalah 1 Dekade FIM. banyak hal yang ku dapat untuk ku terus menjadi pembelajar yang baik, dari segi materi yang dibawakan oleh pembicara, quote-quote mereka, cerita inspirasi teman-teman, semangat mereka. Huffhhh... sedih kalau harus berpisah saat acara sudah selesai. Karena baru kali ini ada forum kepemudaan yang saya ikuti, ikatan kekeluargaannya sangat erat, penuh dengan canda tawa, riang gembira, dan diisi dengan makna Cinta. Pasti rasa tak ingin pisah ada, karena seperti keluarga sendiri, saling menyemangati antara yang lain. Dan satu hal tidak jarang banyak dari para alumni yang menemukan pasangan hidupnya di Forum ini, yah kalau kata Bunda Tatty Elmir, yaitu Founder dari FIM yang selalu berbagi inspirasi dan kasih sayang kepada semua kunang-kunang (sebutan anggota FIM). "Di FIM kita bisa mengenal satu sama lain, bisa menjadi tempat taaruf, tanpa melanggar syariat Islam dan melanggar hukum ya kan Nak, kita udah bisa lihat kejelekan dan kebaikan setiap orang di FIM dan tidak ada rasa canggung, misalnya lihat si X, gayanya dia, cara becandanya dia sampai ketawanya dia kita tahu." (Waktu ngobrol di depan warung hari Jumat tanggal 1 November 2013)

FIM adalah tempat saya menemukan keluaarga baru, keluarga penuh inspirasi dan selalu berbagi kasih.